Minggu, 27 Desember 2015

BEGIBUNG TRADISI SUKU SASAK (photo: MILAD MPSSGI KE 16 )

                                                 BEGIBUNG TRADISI SUKU SASAK
                                                        photo: MILAD MPSSGI KE 16



Sebutan “Begibung” mungkin tidak asing lagi ditelinga orang-orang suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok atau lebih dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, meski mulai agak jarang terlihat dan menjadi pemandangan yang sulit didapatkan saat ini namun tradiri makan bersama ini disebagian tempat masih terlihat rutin dilakukan dan terpelihara keberadaannya, terutama jika terdapat acara syukuran atau “Begawe”.
Pagi itu mentari belum menampakkan pancaran sinar terangnya, dari sejak subuh terlihat disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan untuk menyiapkan makanan dan panganan khas Lombok yang akan disajikan kepada tamu undangan di acara “begawe” (tasyakuran) yang dilakukan atas pernikahan anak laki-lakinya.
Mulai dari warga laki-laki yang sibuk menyiapkan lauk-pauk seperti Reraon, Ares dan juga Ebatan, tidak perlu ada perintah dari seorang Komandan seperti yang sering kita liat didunia Militer atau pengaturan mekanisme kerja dari seorang CEO disebuah Perusahaan, namun ratusan anggota Banjar terlihat sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing seakan sudah sangat paham dengan semua itu.



Sedangkan anggota Banjar perempuan tidak kalah sibuknya mereka menyiapkan jajanan khas Begawe ala suku sasak Lombok seperti Pis-pisan, Jaje Tujak, Tarek, Cerorot dan masih banyak jenis yang lainnya, pemandangan seperti ini sudah menjadi tradisi yang mungkin tidak semua kampung masih menikmatinya karena untuk daerah perkotaan semua pekerjaan itu seringkali dilimpahkan kepada pihak Catering.
Ada hal yang terlihat begitu menarik dari rangkaian kegiatan tersebut yaitu Begibung saat sarapan pagi, sekitar pukul 09.00 Wita semua anggota banjar diberikan sarapan dengan cara Begibung, mengunakan media Nare atau Nampan sebagai tempat nasi dan lauknya kemudian satu Nare tersebut dimakan oleh empat orang dengan cara berhadap-hadapan, sungguh menjadi pemandangan sangat menarik karena terlihat rasa kekeluargaan yang kental diantara anggota Banjar dan warga kampung lainnya.


Begibung memberikan pelajaran yang cukup berharga bagi masyarakat suku Sasak. Betapa kebersamaan itu menjadi sangat penting, perbedaan status tidak menjadi penghambat bahkan begibung melebur semua status sosial menjadi satu. Begibung juga memberikan pesan, betapa suku Sasak sangat toleran dan memberi satu sama lain. Makna-makna inilah yang hari ini telah mulai terkikis dalam kehidupan masyarakat kita. Gelombang informasi yang tidak terkontrol menyebabkan masyarakat kita kadang menjadi acuh tak acuh.
“Begibung ini harus menjadi tradisi yang terjaga sampai anak cucu kita kedepan, karena sangat bermanfaat untuk tetap menjaga rasa kekeluargaan dan kebersamaan”,

Sabtu, 26 Desember 2015

RITUAL MAULID ADAT ALA GUMANTAR

                                      Rangkaian Ritual Prosesi Maulid Adat Ala Gumantar





Prosesi ritual Maulid Adat Gumantar,Kecamata Kayangan,Kabupaten Lombok Utara, setiap tahun berlangsung selama dua hari dua malam, dimulai dari Merembun (mengumpulkan) segala hasil bumi di Bale Beleq (rumah adat). Dalam acara merembun ini dilakukan oleh kaum hawa dengan menggunakan wadah peraras (bakul kecil) dan berpakaian adat,
Kegiatan berikutnya,adalah Bisok (cuci) Gong Adat sebelum diturunkan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan agenda Bisok Menik (Cuci Beras) yang dilakukan oleh kaum hawa di Lokok Bikuk sekitar 200 meter sebelah barat Dusun Gumantar.
Dalam acara bisok menik ini,tidak berdasarkan Purusa.”Siapa saja boleh melakukannya,”katanya.
Sementara menunggu segala sesuatunya siap, di alun-alun Mesjid Kuno Gumantar masih tetap berlangsung tarian yang menurut bahasa Gumantar disebutnya Migel. Bersamaan dengan itu, di bale beleq, praja mulud juga sedang dipersiapkan.



Kemudian acara selanjutnya adalah Tau Lokak sudah siap diberugak bersama sama dengan Pengancang dan berpakaian adat.“Kalau sudah Tau Lokak sudah siap di Berugak bersama dengan Pengancang, ini berarti prosesi ritual Maulid Adat, akan segera digelar,”.
Acara dilanjutkan dengan iring-iringan sepasang Praja Mulud menuju Mesjid Kuno, dengan 10 orang laki-laki membawa ancak (dulang terbuat dari bambu) dan 20 pasang wanita mengiring paling depan dengan menggunakan pakaian adat.


“10 laki-laki pembawa ancak ini, langsung naik ke Mesjid Kuno bersama dengan Praja Mulud, sedangkan 20 wanita sebagai pengiring tadi, hanya sampai diluar Mesjid,”.
‘Puncak akhir dari prosesi ritual Maulid adat Gumantar ini, sama dengan seperti di Bayan, yaitu puncaknya dengan naiknya Praja Mulud ke Mesjid Kuno. Sedangkan kalau di Sesait, puncak Maulid adatnya dengan di naikkannya Nasi Aji di Mesjid Kuno.

PUNCAK MAULID ADAT WET SESAIT

                                 Puncak Maulid Adat Wet Sesait, Dulang Nasi Aji di Naikkan



Ritual prosesi Maulid Adat wet Sesait, pada puncaknya yang terakhir (hari keempat) dengan menaikkan Nasi Aji ke Mesjid Kuno.
Nasi Aji yang dinaikkan ini berjumlah tiga buah dulang yang berkaki satu, yang bentuk dulangnya seperti Waruga pada jaman batu besar.
Disebut Nasi Aji, karena cara penyajian segala isinya dengan cara berdiri dan dibungkus / dibalut dengan kain putih.
“Pada intinya, ini adalah sebuah simbol bahwa, apapun isinya tidak ada yang mengetahui, karena dibungkus dengan kain putih,
Mengapa jumlahnya harus tiga dulang? karena itu ada hubungannya dengan Menjango, Membangar dan Bukak Tanak.


Dulang Nasi Aji berisikan segala jenis makanan yang sebelumnya sudah disajikan oleh Praja Mulud di dalam Kampu. Isinya terdiri dari nasi, lauk-pauk (tanpa garam), pisang, jaja pangan, jaja tutu dan lain secukupnya. Semua penganan ini disajikan / diatur dengan cara berdiri. Masing-masing dulang dibungkus dengan menggunakan kain putih (melambangkan kesucian).
Nasi Aji yang berjumlah tiga dulang ini, diperuntukkan bagi Tau Lokak Empat. Sedangkan dulang selebihnya itu adalah sebagai pengiring dulang Nasi Aji, dan diperuntukkan bagi siapa saja yang ada di dalam Mesjid Kuno.
“Khusus dulang Nasi Aji yang tiga buah ini, sudah ada peruntukannya. Satu dulang untuk pasangan Pemusungan dan Penghulu, satu dulang untuk pasangan Mangkubumi dan Jintaka, dan satu dulang yang lainnya diperuntukkan bagi tamu undangan yang lain, yang setingkat dengan jabatan Tau Lokak Empat,
Tetapi yang unik disini, lanjutnya, bahwa Mangkubumi itu tidak makan. Sebagai penggantinya dicarilah orang yang sederajat dengannya, untuk menyantap Nasi Aji bersama dengan Jintaka
Ada lagi sebutan yang unik dalam Tau Lokak Empat. Misalnya, Penghulu, tidak disebutkan Penghulu saja, tetapi ditambah sebutan nama didepannya dengan sebutan Mas Penghulu. Sedangkan yang lain, seperti Pemusungan, Mangkubumi dan Jintaka, sebutannya tetap tidak berubah


Kamis, 24 Desember 2015

PROSESI MAULID ADAT BAYAN

                                         
                                                    PROSESI MAULID ADAT BAYAN




Tradisi Maulid Nabi ala adat Bayan ini berjalan selama dua hari. Hari pertama adalah persiapan bahan makanan dan piranti upacara lainnya yang disebut “kayu aiq”, sementara hari kedua adalah do’a dan makan bersama yang dipusatkan di masjid kuno Bayan. Para pelaksana prosesi ‘Mulud Adat Bayan” terdiri dari warga Desa Loloan, Desa Anyar,Desa Sukadana, Desa Senaru, Desa Karang Bajo dan Desa Bayan, yang semua Desa tersebut merupakan kesatuan wilayah Adat yang disebut Komunitas Masyarakat Adat Bayan.


Perhitungan berdasarkan ‘Sereat’ (Syari’at) Adat Gama di Bayan “Mulud Adat Bayan” dilaksanakan pada dua hari setelah ketepan Kalender Islam Maulid Nabi tgl.12 Rabi’ul Awal tepatnya dimulai pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal yang tahun 2011 ini jatuh pada tanggal 18-19 Februari, Komunitas Masyarakat Adat Sasak Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sejumlah masyarakat adat bersiap-siap melakukan rangkaian acara perayaan Maulid Nabi yang digelar secara adat,masyarakat adat setempat biasa menyebutnya dengan “Mulud Adat”


Sejak pagi hari Masyarakat Adat Bayan berbondong-bondong menuju "Kampu" yaitu desa asli atau area yang pertama didiami oleh suku sasak Islam Bayan, mereka menyerahkan sebagian sumber penghasilannya dari hasil bumi seperti, padi, beras, ketan, kelapa, sayur-sayuran, buah-buahan,dan hewan ternak beserta “batun dupa” (uang) dan menyatakan nadzarnya kepada “Inan Menik” yaitu seorang perempuan yang menerima hasil bumi dari para warga nantinya hasil bumi tersebut akan diolah menjadi hidangan (sajian) untuk dihaturkan kepada ulama dan tokoh adat sasak Bayan dikeesokan hari pada hari ke dua Mulud Adat, hal ini adalah bentuk rasa syukur warga atas penghasilannya, kemudian “Inan Menik” memberikan tanda di dahi warga adat dengan “mamaq” dari sirih sebagai ritual penandaan anak adat yang disebut “Menyembeq".


Selanjutnya Masyarakat Adat Bayan bahu membahu membersihkan tempat yang disebut Balen Unggun (tempat sekam/dedak), Balen Tempan (Tempat alat-alat penumbuk padi), membersihkan Rantok (tempat menumbuk padi), membersihkan tempat Gendang gerantung, selanjutnya sebagian dari kelompok masyarakat Adat menjemput gamelan Gendang Gerantung, setibanya Gendang Gerantung di tempat yang sudah disediakan dilakukan acara ritual selamatan penyambutan dan serah terima dengan ngaturan Lekes Buaq (sirih dan pinang), kemudian acara ritual “Taikan Mulud” (Rangkaian Mulud Adat dimulai).


Perkiraan waktu ‘gugur kembang waru’ (sekitar jam 15.30 waktu setempat) Para wanita memulai “Menutu Pare” (menumbuk padi) bersama-sama secara berirama dengan menggunakan Tempan terbuat dari bambu panjang ditempat menumbuk padi yang berbentuk seperti lesung perahu yang disebut “Menutu” (menumbuk). Di saat yang bersamaan diiringi dengan gamelan Gendang Gerantung khas Desa Bayan, sebagian kaum laki-laki mencari bambu tutul untuk dijadikan sebagai umbul-umbul yang akan dipajang pada setiap pojok masjid kuno Bayan acara ini disebut “Tunggul” yang dipimpin oleh seorang pemangku yang disebut “Melokaq Penguban” setelah mendapat restu dengan pemberian lekoq buaq (sirih dan pinang) oleh “Inan Menik”, lekoq buaq inilah yang dijadikan sebagai media bertabiq (permisi) kepada pohon bambu yang akan ditebang.



Malam harinya bertepatan dengan bulan purnama dimana tunggul (umbul-umbul) sudah terpasang pada setiap pojok masjid Kuno, para pemimpin Adat dan Agama mulai “Ngengelat” yaitu mendandani dalam ruangan Masjid Kuno dengan symbol-simbol sarat makna, dan setelah itu disaat para pemain gamelan sudah memasuki halaman Masjid Kuno Bayan pertanda acara bertarungnya dua orang warga pria dengan menggunakan rotan (Semetian) sebagai alat pemukul dan perisai sebagai pelindungnya yang terbuat dari kulit sapi, akan segera dimulai, permainan yang biasa disebut “Presean” ini biasa dilakukan oleh para “Pepadu” atau orang yang dihandalkan dalam permainan ini, namun pada acara Mulud Adat ini siapa saja yang ingin dipersilahkan, atau warga yang bernadzar bahwa ketika Mulud Adat dia akan bertarung. Permainan yang dihelat tepat didepan Masjid Kuno Bayan ini, tidak didasari rasa dendam dan merasa jagoan namun bagian dari ritual dan hiburan dan apabila salah satu pemain terluka, atau mengundurkan diri keduanya harus meminta maaf dengan bersalaman seusai permainan. Ini merupakan tradisi ritual dan hiburan Mulud Adat yang dilakukan sejak berabad-abad lamanya.


Seusai acara “Semetian” atau “Presean” para pemimpin Adat, pemimpin Agama besrta tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan terbuka bagi siapapun yang ingin ikut serta pada berkumpul di “Berugaq Agung” untuk saling bercerita lepas dan berdiskusi serta berwacana tentang segala hal.
Pada hari kedua 15 Rabi’ul awal warga perempuan adat memulai kegiatannya dengan “menampiq beras” yaitu membersihkan beras yang telah di “Tutu” atau di “Rantok” yang dilanjutkan dengan acara “Misoq Beras” (mencuci beras) dengan iring-iringan panjang para perumpuan adat dengan rapi berbaris dengan bakul beras dikepala menuju sebuah mata air Lokoq Masan Segah namanya yang memang dikhusukan untuk mencuci beras dikala ritual dilaksanakan. Jarak mata air ini sekitar 400 meter dari ‘Kampu”. Prasayarat para pencuci beras ini adalah perempuan dalam keadaan suci (tidak dalam masa haid), sepanjang jalan berpantang untuk berbicara, tidak boleh menoleh dan memotong jalan barisan. Setelah beras dicuci lalu dimasak menjadi nasi tibalah saatnya untuk “Mengageq” yaitu menata hidangan diatas sebuah tempat yang dibuat dan dirancang sedemikian rupa yang disebut “Ancaq”


Pada sore harinya, “Praja Mulud” atau para pemuda Adat yang telah didandani menyerupai dua pasang pengantin diring bersama-sama dari rumah “Pembekel Beleq Bat Orong” (Pemangku adat dari Bayan Barat) menuju Masjid Kuno dengan membawa sajian yang berupa hidangan seperti nasi dan lauk pauknya . “Praja Mulud” ini mengambarkan proses terajdinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan penganten yang dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan.



Setibanya di masjid lalu salah seorang pemuka agama memimpin do’a. Seusai do’a acara dilanjutkan dengan makan bersama yang dikuti para jama’ah atau warga adat yang datang kemudian untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.ini merupakan wujud rasa syukur warga adat sasak Bayan kepada para ulama sekaligus menjadi puncak acara perayaan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W yang dirayakan secara adat Bayan.

DUSUN TRADISIONAL SENARU BAYAN

                                           DUSUN TRADISIONAL SENARU BAYAN





Dusun Senaru memiliki panorama alam yang indah dengan wisata air tejunnya dan pintu gerbang pendakian gunung Rinjani, juga memiliki perkampungan tradisional yang ditinggali oleh sekitar 25 Kepala Keluarga (KK).
Rumah yang berjejer rapi dengan pagar bedeg beratap daun rumbia menambah keindahan perkampungan tradisional ini. Lebih-lebih disekeliling perkampungan ini terdapat kebun kopi dan berdekatan langsung dengan pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Rumah diperkampungan ini, tidak jauh beda dengan rumah adat suku Sasak yakni memiliki multifungsi dan nilai estetika dan filosofis bagi penghuninya. Arsitektur atap rumahnya berbentuk seperti gunungan menukik kebawah dengan jarak antara 1,5 sampai 2 meter dari permukaan tanah.
Sementara atap bubungannya (bungus-bahasa Sasak) terbuat dari alang-alang dengan dinding dari anyaman bambu tanpa ada pentilasi atau jendela. Kamar rumah dibagi menjadi beberapa ruangan, yaknu ruang induk, ruang tidur dan ruang tempat menyimpan harta benda. Atapnya yang berbentuk gunung  terinspirasi dari Gunung Rinjani, Gunung tertinggi di Lombok dan memiliki nilai sakral tertentu bagi suku sasak.


Dusun Senaru  berada dalam satu kompleks yang tertutup dan secara eksternal dihubungkan oleh jalan menuju jalan utama ke Desa Bayan. Bale-bale di Dusun Senaru didirikan di atas tanah datar yang berada di  daerah lereng. Di kelilingi oleh pagar dan berfungsi sebagai pembatas, pertahanan dan sebagai penyedia kelengkapan untuk upacara tertentu.
Pembangunan bale dilakukan dengan konsep cermin atau berhadapan, dan diantara dua bale didirikan bangunan yang bernama beruga’. Di luar bangunan rumah dekat pagar berdiri kandang ternak.
Sementara mata pencaharian pendudukanya hampir 100 persen sebagai petani dan sebagian kecil peternak. Kendati tetap mempertahankan keasliannya, namun warga tidak menolah modernisasi, dan hampir semua rumah adat transidisional ini sejak beberapa tahun lalu sudah diterangi dengan lampu listrik.


Bagi anda yang berkunjung ke obyek wisata air terjun Sendang Gila atau melakukan pendakian ke Rinjani, rasanya kurang lengkap jika anda tidak mampir di rumah trandisional Senaru yang bersebelahan langsung dengan pos Rinjani Trekk Center.

Rabu, 23 Desember 2015

OPAK OPAK PLECING KANGKUNG LOMBOK UTARA


                          OPAK-OPAK DAN PLECING KANGKUNG-LOMBOK UTARA





Kabupaten Lombok Utara memliki kekayaan kuliner khas yang tidak ditemukan di tempat lain, sebut saja sate ikan khas Tanjung, Pepesan Ikan,dan makanan ringan "unik" berbahan baku ubi   kayu  yang rasanya sangat enak gurih dan renyah yaitu Opak-Opak,yang merupakan kuliner non beras.    Adapun Jenis kuliner tradisional ini hanya bisa ditemukan di  Pemenang, Tanjung,dan Gondang.
Cara membuat opak-opak relatif sederhana, hanya menggunakan bahan baku ubi kayu  yang  dikupas kemudian diparut, selanjutnya diperas untuk mendapatkan tepung kanjinya.
Bahan kanji tersebut kemudian dimasak dan dicampur dengan santan kelapa serta garam secukupnya  hingga berbentuk lem. vDalam keadaan hangat dituang ke dalam cetakan dari piring seng dan setelah dingin  akan  menjadi  kerupuk  tipis  berbentuk  bundar.  Selanjutnya dijemur hingga kering menjadi sejenis kerupuk tipis berbetuk  bundar yang  oleh  masyarakat Lombok   Utara  dinamakan opak opak Opak opak kering  kemudian dipanggang  di atas bara api dan selanjutnya  sehingga  matang dan siap dinikamti bersama pelecing kangkung, pecel, urap, sate ikan atau sate daging.   Namun biasanya opak
ini dijadikan sebagai piring tempat menyajikan pelecing yaitu kuliner khas sasak yang sangat familiar
di bumi Lombok.  Dan uniknya opak opak yang dijadikan piring atau wadah tempat menaruh  plecing
ikut disantap bersama,sehingga membuat sensasi tersendiri dalam rasa dan cara penyajiannya. Bumbu pelecing, urap atau bumbu sate yang membasahi dan menyatu dengan opak-opak  itu akan menambah lezatnya jenis penganan tradisional khas Lombok Utara ini.



Jenis kuliner khas daerah yang dikenal dengan "Dayan Gunung" ini merupakan makanan ringan yang banyak dijual di Pemenang ,Tanjung,Lekok,dan Gondang,sehingga cukup mudah untuk mendapatkan
kuliner ini bagi yang berminat untuk mencicipi rasa dan sensasinya, Sejalan dengan kian berkembang nya  sektor pariwitsata di kabupaten bermoto "Tioq Tata Tunaq",  opak-opak  tersebu t kini  dijual   di sejumlah objek wisata, seperti di Gili Trawangan, Gili Meno dan Gili Air.




Sejak beberapa tahun ini opak-opak telah menjadi bagian dari wisata kuliner,  karena  ternyata  selain wistawan domestik turis mancanegara juga cukup menggemari jenis  makanan  khas  yang hanya bisa ditemukan di Kabupaten Lombok Utara ini. Di obyek wisata  yang ramai dikunjungi wistawan manca negara maupun nusantara ini selain bisa ditemukan  makanan khas barat,  seperti  burger,  hotdog dan pizza, juga makanan tradisional yang bahan baku utamanya dari ubi kayu yang dikenal  dengan  nama
Opak Opak ini.Para penjual opak-opak di objek wisata Gili Terawangan, Desa Gili Indah, Kecamatan Pemenang, mengakui  bahwa wisatawan nusantara maupun wisman sering membeli opak-opak untuk dinikmati sambil duduk di pinggir pantai.Mereka mengaku  memiliki  cukup   banyak langganan turis asing, antara lain  asal Amerika, Australia dan Korea Selatan, selain wisatawan dari   berbagai daerah di Indonesia yang suka membeli dan menikmati Opak Opak dengan  Plecing  Kangkungnya,

SULING DEWA BAYAN


                                                           SULING DEWA BAYAN

Suling Dewa, kesenian tradisional asal Bayan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini hanya digelar ketika musim kemarau melanda. Tradisi ini dihelat untuk memohon turunya hujan. Mengingat musim kemarau yang menghantui warga Lombok Utara secara khusus dan NTB secara umum, sepertinya ritual yang satu ini perlu diadakan dalam Pekan Apresiasi Budaya.
Selama ini masyarakat Lombok memahami dan mengenal Bayan sebagai salah satu pusat peradaban tertua di Lombok. Banyak budaya dan seni tradisi hasil lokal genius leluhur yang masih dilakoni di ujung timur Kabupaten Lombok Utara. Salah satu kesenian tradisional Suling Dewa.
Sejarah panjang mengiringi kelahiran kesenian yang satu ini. Tiupan seruling dewa ini diyakini masyarakat adat Bayan mampu menurunkan air langit untuk memberikan babak kehidupan yang baru di atas bumi.
Kesenian ini lahir ketika wilayah Bayan dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Karena tak ada satu pun tanaman yang bisa tumbuh dan berkembang, otomatis mempengaruhi siklus kehidupan di Gumi Bayan. Bahaya kelaparan pun mengancam dimana-mana.
Suara-suara bijak dari atas langit memberikan petunjuk demi kelangsungan hidup umat manusia. Salah seorang pemangku (tokoh yang dituakan,), diberikan petunjuk melalui suara, bukan petunjuk dari mimpi. Sang pemangku pun berkomunikasi tanpa bisa mengetahui siapa si pemilik suara.

Dalam komunikasi yang terjalin antara pemangku dengan suara tersebut, sang pemangku kebingungan.Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam kebingungannya, pemangku adat tadi diarahkan kembali untuk melakukan sebuah prosesi adat yang dinamakan mendewa. Maksudnya, untuk mengakhiri musim kemarau panjang ini.
Hanya saja persoalan tidak bisa selesai sampai disana saja. Sang pemangku kebingungan mencari bahan-bahan untuk melakukan prosesi adat Mendewa. Karena keperluan ritual mendewa harus dilengkapi dengan sirih, pinang, lekoq buak (penginang), sementara kala itu musim kemarau tengah melanda.
Selanjutnya, wangsit itu kemudian mengarahkan agar pemangku bergegas menuju ke suatu tempat di tengah hutan Gunung Rinjani. Disana sudah tersedia keperluan yang dibutuhkan untuk melakukan prosesi ritual mendewa tersebut. ”Dalam dialog tersebut, ditegaskan segala prosesi tersebut harus dilaksanakan di Bale Beleq pada malam senin dan malam jumat.
Selain itu, pemangku juga diperintahkan membuat suling dari bambu. Sebuah alat musik tiup yang merupakan satu-satunya alat yang dipakai untuk menghibur diri. Prosesi ini diawali dengan ditiupkannya seruling oleh Jero Gamel atau peniup suling. Ia lantas memainkan komposisi atau Gending Bao Daya. Bila diartikan, dalam bahasa Indonesia bao daya ini bermakna mendung di selatan.
Di malam pertama prosesi ini dilangsungkan yaitu pada malam senin, hujan tak juga turun. Tapi ajaibnya, Gumi Bayan yang selama berbulan-bulan mengalami kekeringan, tib-tiba melihat awan gelap yang datang berarak-arak menyelimuti langit Bayan.
Pada malam jumat, dimana prosesi kedua dari ritus ini dilangsungkan, hujan hampir-hampir saja mengguyur Gumi Bayan. Hanya saja, hujan yang diharapkan tak kunjung jua turun membasahi tanah.
Suara bijaksana tersebut kembali datang menyapa Pemangku, agar tetap melaksanakan ritual tersebut.
Akhirnya rintik hujan yang dinanti selama ini, turun dari langit dengan derasnya pada pelaksanaan ketiga, atau tepatnya di malam senin. Tetesan air tercurah ke bumi terjadi sesaat setelah alunan Gending Bao Daya dimainkan Jero Gamel dengan tiupan serulingnya. Kehidupan pun kembali pulih. Semua orang tersenyum menatap datangnya hujan yang membawa pengharapan baru diatas muka bumi.

Atas keajaiban tersebut, suling Bao Daya yang selama ini dikenal oleh masyarakat Bayan pun berganti nama menjadi Suling Dewa. Nama ini diberikan atau ditasbihkan masyarakat karena keajaiban yang dihasilkan melalui tiupannya.
Dalam memainkan gending Bao Daya ini, ada dua unsur yang harus ada. Yakni, Jero Gamel atau peniup seruling dan Jero Gending atau sosok Sinden dalam kebudayaan Jawa. Selain komposisi Bao Daya, masyarakat Bayan juga mempunyai beberapa komposisi lainnya. Seperti, komposisi Putri Cina, Lembuneng Meloang, dan Lokok Sebie.

Menariknya lagi, alat musik tiup ini memiliki sebuah pemahaman filosofis yang begitu mendasar dan mulia. Alat musik seruling ini menggambarkan wujud manusia, dimana bila seruling ini tidak diberikan hembusan nafas, maka tidak akan menghasilkan nada-nada indah. Begitu juga dengan manusia, bila raga tanpa atma atau roh, tentu tidak akan ada kehidupan.
Didalam alat musik seruling, di ujung atas terdapat rongga yang akan ditiup yang dinamakan Slepers. Rongga inilah yang berfungsi sebagai tempat untuk menghembuskan nafas penghasil nada. Di badan seruling tersebut, terdapat enam lubang yang disebut pengatep untuk memainkan tangga nada.
Pengatep dengan enam lubang ini sebagai simbol indra yang dimiliki manusia. Suling dewa yang tidak diketahui usianya ini, hingga kini masih dikeramatkan sebagian masyarakat adat Lombok Utara. Tidak boleh diletakkan sembarangan, dan juga tidak boleh dimainkan secara semabarangan pula. Dimainkan pada saat-sata tertentu, seperti pada saat prosesi adat Gawe Alif, musim kemarau, atau selametan desa.
Untuk memainkan Suling Dewa, harus melalui prosesi adat terlebih dahulu. Jenis perlengkapannya pun sudah merupakan ketentuan mutlak. Yakni berupa kepeng (uang) bolong sebanyak 44 buah, lekoq buaq, bantal, kemenyan, nyiur gading, dan bunga harus disiapkan terlebih dahulu.
tidak itu saja, sebagian masyarakat Bayan juga meyakini seruling ini sebagai media pengobatan. Bila dipakai sebagai media pengobatan, peniup seruling pun akan mengalami kedewan atau kesurupan. Bila sudah mengalami Kedewan ini, pihak yang sakit pun dipersilahkan untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya. Selanjutnya, pasien akan diberikan jalan keluar penyelesaian masalah yang dihadapinya.

PEMAKAIAN SAPUK DAN JONG DI BAYAN


                                         PEMAKAIAN SAPUK DAN JONG DI BAYAN





Setiap dearah memiliki adat dan tradisi yang berbeda-beda, begitu juga dengan busana adat yang dipakainya seperti ikat kepala bagi laki laki (sapuk) dan ikat kepala bagi perempuan yang dikenal dengan sebutan “Jong”. Sapuk dan Jong dalam masyarakat adat Bayan pada umumnya, digunakan pada saat ada ritual adat tertentu dan ditempat tertentu juga,Lalu kapan dan dimanakan sapuk dan jong ini digunakan,
Penggunaan Jong Bayan yang di pakai oleh kaum perempuan digunakan pada saat acara sareat maulid adat yang ketika menumbuk padi di rantok besar yang terbuat dari kayu seperti sampan. Pada ritual acara maulid adat ini kaum perempuan yang berada di kampung Karang Bajo, kampung Bayan Timur, kampung Bayan Barat dan kampung Loloan. Kecamatan Bayan Lombok Utara harus menggunakan jong yang dibuat khusus secara tradisional yang dikenal dengan nyesek.
Jong Bayan ini ada yang berwarna merah dan ada juga yang berwarna biru, tergantung selera warna masing masing pemakai,Jong ini hanya berukuran 50 cm yang bentuknya segi tiga lancip, dengan suku cadangnya dapat di peroleh di beberapa pengerajin nyesek (setuk Jajak Bilang Bale) di Bayan dengan harga terjangkau untuk umum.


Sementara cara menggunakan sapuk atau jong menurut Kades Karang Bajo, Kertamalip, berbeda-beda tergantung pada saat ritual adat yang dilaksanakan. Secara umum, sapuk digunakan dengan ikatan di bagian depan kepala (kening) yang biasa digunakan pada acara gawe urip ( hidup ). Ikatan sapuk hanya bisa digunakan pada bagian belakang pada saat gawe pati ( ritual kematian ), sementara diluar ritual tersebut ikatannnya harus di depan seperti Nyongkolang, kecuali para Pemangku dan Kyai.
Sapuk atau ikat kepala ini memiliki banyak jenis, Dan jenis yang digunakan itu tergantung dari posisi atau jabatan pemakainya dalam pranata adat.
Sapuk berwarna biru digunakan oleh Mak Lokaq Perumbaq yaitu, Perumbaq Daya, Perumbaq Tengaq (Maq Lokaq Gantungan Rombong), dan Perumbaq Lauk. Warna biru ini diyakini oleh masyarakat adat sesuai dengan warna langit, yang bisa mengayomi setiap makhluk hidup di bumi,Sehingga perumbaq ini diharapkan bisa memberikan pengayoman kepada masyarakat adat dan lingkungannya, baik di daerah hutan, masyarakat adat maupun untuk perairan atau laut.
Sementara sapuk berwarna putih digunakan oleh para Kyai Adat dan Pemangku, yaitu Kyai Penghulu, Kiyai Lebe dan Kiyai Santri.dan juga untuk amak Lokaq.
Kiyai Penghulu, Kiyai Lebe dan Kiyai santri merupakan tokoh agama yang memiliki tugas sama dengan pemangku yang lainnya yaitu untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat adat juga masyarakat umum. Sapuk yang berwarna putih ini menunjukan kesucian dan kebersihan hati dari para Kyai dan pemangku sebagai tokoh dan suritauladan bagi masyarkat adat.



Sapuk batik warna warni ini di gunakan oleh masyarakat adat secara umum,Ada juga pejabat adat yang menggunakan sapuk batik ini, seperti Pembekel yang ada di setiap komunitas masyarakat adat. Sapuk batik yang memiliki banyak warna ini juga memiliki banyak arti bagi masyarakat adat Bayan yaitu kehidupan yang bermacam-macam, baik dari pekerjaan maupun garis keturunan adatnya.
Kertamalip mengharapkan kepada semua masyarakat adat agar dalam melaksanakan ritual adat atau acara urip agar budaya dan busana yang telah di tinggalkan oleh para tetua [leluhur] tetap dilestarikan sehingga tidak hilang begitu saja

Selasa, 22 Desember 2015

MAULID ADAT DESA SEMOKAN BAYAN


                                                  MAULID ADAT DESA SEMOKAN BAYAN





Masyarakat dusun adat semokan Desa Sukadana Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara saat ini  mengadakan  ritual adat maulid adat.Acara ini tergolong masih sakral jauh dari segala hal yang berbau modern.

Desa semokan merupakan salah satu dusun terpencil yang terletak di desa Sukadana Kecamatan Bayan Lombok Utara. Seperti kita ketahui bahwa Bayan merupakan pusat tradisi kebudayaan kuno di Pulau Lombok. Diantara semua tradisi yang paling menonjol kita dengar adalah Maulid Adat. dalam prosesi adat di Semokan dilakukan betul-betul berbeda dengan prosesi adat yang dilakukan di tempat lain. Setiap warga atau masyarakat yang datang ke Semokan harus mematuhi peraturan-peraturan yang sudah ditentukan oleh para pemangku adat. Aturan-aturan yang dibuat harus diikuti dan ditaati oleh setiap warga adat dan pengunjung. Metode ini dilakukan agar tidak ada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena maulid adat di Desa Semokan ini masih dibilang sakral dan  jauh dari sifat modernisasi.

Setiap orang yang datang baik warga dan pengunjung diwajibkan menggunakan pakaian adat, yang laki-laki harus menggunakan kain songket, dan sapuk. para wanita diibaratkan seperti bidadari tanpa menggunakan baju, namun menggunakan stagen untuk mengikat kain dan penutup bagian dada dan dilengkapi dengan selendang sebagai pelengkap. sebagai bentuk kesakralan dusun semokan, setiap laki-laki dan wanita yang datang tidak diperbolehkan menggunakan celana atau celana dalam bentuk apapun selain songket serta tidak di perbolehkan untuk memakai sandal.

Setelah semua persiapan dilakukan oleh pengunjung yang datang dari luar baik itu untuk liputan atau hanya sekedar menyaksikan, harus melakukan beberapa perosesi ritual untuk dapat mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir. ritual pertama yang dilakukan oleh pengunjung dari luar desa adalah besuci "bebersin" yaitu bersuci dengan cara berkumur, mencuci muka dan kaki di sumur menggunakan cedok tempurung kelapa, "sumur pembersih" ada disungai jalan masuk meuju kampu atau rumah adat. setelah bersuci, barulah di lanjutkan ritual kedua yaitu" bsembeq" memberikan tanda di dahi pengunjung atau warga adat dengan menggunakan pamak yang berwarna merah. 

Dalam ritual menyembeq  ini pengunjung harus melalui tiga tahapan, yaitu melewati tiga rumah adat dan didalam tiga rumah itu ada tiga kepala keluarga yang akan kita lewati agar pengunjung luar bisa mengikuti rangkaian acara adat yang sudah di tetapkan. kepala keluarga itulah yang nantinya akan memberikan sembeq kepada orang luar yang ingin menyaksikaan maulid adat tersebut. setelah kita di sembek oleh tiga pemangku rumah adat, maka dengan itu kita sudah diberikan izin untuk menyaksikan atau meliput kegiatan adat tersebut. sebelum pada tahap penyembeqan maka dalam tiga rumah adat itu memiliki pemangku yang berbeda-beda,


Setelah kita mendapat restu dari tiga pemangku rumah adat itu, maka kita sudah termasuk dalam adat tersebut dan wajib hukumnya kita mematuhi peraturan yang berlaku. adapun hal yang paling dilarang dalam perosesi adat itu iyalah berjualan, karena apabila ada salah seorang yang kedapatan berjualan maka hukumnya adalah denda satu ekor kerbau. aturan itu melarang berdagang karena menurut kepercayaan mereka, kita adalah sama tidak ada bupati, gubernur dan bahkan presiden sekalipun. apabila dia memasuki wilayah adat yang disebut dengan kampu maka ia harus mentaati aturan yang sudah berlaku.

Adat atau tradisi yang ada di Semokan Desa Sukadana ini masih tergolong di sakralkan dan akan terus dilestarikan itulah sebabnya diadakan peraturan hingga membatasi pengunjung dalam mendokumentasikan kegiatan, meliput, merekam bahkan mencari informasi yang dalam mngenai adat setempat untuk dijadikan konsumsi publik. tujuan mereka adalah agar budaya adat yang ada disana  tidak ada campur tangan orang luar yang bisa mengakibatkan adat tersebut hancur.

Ketika semua perosesi Sembean pengunjung direstui oleh pemangku, maka barulah kita bisa ikut menyaksikan  perosesi adat. ada banyak sekali perosesi ritual adat yang ada pada acara maulid adat ini namun orang-orang adat yang ada disana sangat membatasi informasi untuk setiap pengunjung dan bahkan menyorot kamera bahkan alat perekam  yang dibawa oleh orang luar. dalam pengambilan gambarpun  kita dibatasi sekitar empat atau lima foto, tanpa menggunakan flash dimalam hari karena dihawatirkan dapat merusak konsentarasi saat menjalani perosesi adat.

Ada beberapa desa juga mengadakan acara Maulid Adat di kecamatan bayan pada hari yang sama diantaranya adalah Semokan, Anyar, Senaru, karang bajo dan desa Bayan. karena menurut kepercayaan wargga setempat bahwa semua desa tersebut merupakan satu kesatuan wilayah adat yang dikenal dengan Masyarakat adat Bayan.

Dalam memiliki informasi mengenai adat, ada beberapa hal yang dapat kami rubrik. mengenai semua rangkaian upacara adat di Semokan. diataranya adalah sebagai berikut;
"Kampu" merupakan sebuah rumah adat yang yakini sebagai area atau tempat pertama kali di diami atau ditinggali oleh suku sasak islam di desa bayan.  dirumah adat itulah warga adat menyerahkan hasil panen dan ternaknya yang disertakan dengan nazarnya. warga adat menyerrahkan semua hasil panennya kepada inan mniq.
"Inan mniq" yaitu  salah seorang permpuan yang di percaya untuk menerima dan mengolah hidangan  yang disajikan kepada para kiyai, penghulu dan tokoh adat saat hari puncak perayaan maulid adat.


Setelah  semua itu dilaksanakan barulah warga adat bahu membahu membersihkan tempat gendang atau gerantung (alat musik tradisional, gong) yang akan disambut oleh sebagiaan kelompok adat. Setibanya gendang gerantung pada tempat yang disediakan. gong gerantung yang dimainkan akan dimainkan secara terus- menerus tampa henti, karena apabila gong berhenti semua warga adat yang datang di areal rumah adat itu harus pulang, karena konon kalau gong itu berhenti akan ada terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. acara ritual dilanjutkan dengan selamatan penyambutan dan serah terima dengan ngaturan lekes buak (sirih dan pinang) sebagai tanda taikan mulud atau Rangkaian Maulid Adat di mulai. sekitar pukul 15.30 Wita. Waktu itu dinamakan dengan "Gugur Kembang Waru".

Ketika pukul 02.00 Wita semua peraja mulud berkumpul dihalaman masjid kuno diadakan upacara perisaian yang umumnya kita lihat, namun di Semokan ini tata cara perisaian dan waktunyapun beda pada dari yang pernah kita lihat. alat perisai yang digunakan berbentuk bulat seperti perisai jaman dahulu dan dilengkapi rotan sebagai pemukul pada umumnya. namun yang sangat menganjal adalah kenapa perisaian diadakan tengah malam.dan rata-rata yang kita lihat semua yang pernah mengikuti pertandingan perisaian itu senang dengan luka memar ditubuhnya.
tanpa  merasa dendam atau menimbulkan pertikaian setelahnya. acara berlanjut sampai pagi.

Paginya acara dilanjutkan dengan bersih-bersih dan setelah kira-kira pukul 14.00 baru dilanjutkan dengan acara "Bisoq Meniq" acara ini dilakukan oleh para wanita yang sedang dalam keadaan suci (tidak haid). saat melakukan ritual bisok meniq ini disepanjang jalan berpantangan untuk berbicara atau berbisik-bisik, tidak boleh menoleh dan mematahkan barisan. Setelah beras dicuci barulah dimasak menjadi nasi. Disaat yang bersamaan laki-laki memotong hewan kurban  60 ekor kambing dan dua ekor kerbau sebagai lauk pada hidangan malam terakhir.

Acara puncak dari semua rangkaian kegiatan dilaksanakan pada hari rabu pukul 03.00 Wita dini hari.  warga yang berbondong-bondong untuk bisa ikut pada ritual terakhir itu sampai rela datang dari jam 20.00 malam agar tidak ketinggalan saat acara puncak berlangsung.  acara terakhir adalah acara yang paling disakralkan oleh warga masyarakat adat karena menurut kepercayaan masyarakat pada saat pembagian hidangan mulud disitulah Wong Skabeh dipanggil untuk ikut merayakan pesta adat tersebut.

Pada saat malam puncaknya tiba, barulah semua orang yang tidur dihalaman kampu dibangunkan, selang beberapa menit setelah bangun. orang-orang yang ada disana di perintahkan untuk duduk tanpa terkecuali.  barulah dilanjutkan dengan pembagian Ancak atau hidangan makan  untuk semua orang yang hadir.
"Ancak"yaitu tempat yang di rancang dan dibentuk sedemikian rupa untuk dulang atau hidangan makanan, bentuknya persegi empat yang tebuat dari bambu yang diulat. daun pisang untuk melapisi nasi agar tidak cepat dingin dan pada atas hidangan terlihat tali yang menyila dari sudut kesudut ancak persegi empat.

Setelah semua Ancak dibagikan rata ke setiap pengunjung, barulah dimulai perosesi doa, ini merupakan acara yang paling sakral karena semua makhluk dihadirkan untuk bisa ikut berdoa. semua orang merasakan angin kencang sembari menunggu doa dipanjatkan. pada saat do'a dimulai suara Amin Menggema tanpa kita tahu darimana arah semua suara itu. Hembusan Angin Yang melingkar disekitaran hutan mengelilingi rumah adat menandakan bahwa semuua makhluk itu hadir.
Ini memang terlihat aneh tapi nyata, oleh sebab itulah kita dibatasi didalam menggali informasi lebih jauh dan  mendokumentasikan gambar sebanyak-banyaknya sesuka kita sebagai orang luar yang menyaksikan adat tersebut. karena di Smokan Inilah salah satu desa adat yang tidak boleh dijadikan destinasi wisata dan smua orang luar yang mencari informasi baik itu belajar, tidak boleh menceritakan atau mempulikasikan berita tentang adat yang ada di Semokan.

MENYEIMBANGKAN EMOSI DENGAN NATURAL MAGNETIK ENERGI TUBUH


        MENYEIMBANGKAN EMOSI DENGAN NATURAL MAGNETIK ENERGI TUBUH






Beban hidup yang terasa berat, pekerjaan yang menumpuk dan juga stres yang datang menghampiri dapat membuat orang mudah marah atau emosi. Disenggol sedikit bisa saja membuat marah hingga meledak-ledak. Tentunya hal ini akan berimbas pada kehidupan sosial yang kurang baik. Untuk itu kita sebagai manusia yang merupakan mahkluk sosial dan membutuhkan banyak orang tentunya kita harus bisa menjaga emosi yang ada di dalam diri kita. Agar kita dapat mengontrol emosi yang ada di dalam diri kita tentunya ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, diantaranya adalah dengan mengkonsumsi makanan tertentu yang dapat membantu meredam emosi yang ada.

Secara umum penyebab marah berlebihan adalah marah yang tertekan yang tidak terekpresikan, bisa disebabkan juga karena merasa di abaikan, perasaan tidak nyaman, tidak dihargai,dan lain lain. Pengalaman terhadap situasi kehidupan yang menyakitkan dapat membuat orang berperilaku tidak sehat, seperti menggunakan obat-obat terlarang, atau melampiaskan frustasi mereka pada orang yang salah.

Emosi yang tidak bisa terbendung kadang menimbulkan hal yang buruk dan negatif, sedangkan emosi yang ditahan dapat membuat seseorang depresi. Banyak orang yang tidak peduli dengan emosi mereka sehingga sulit mengindetifikasi emosi sendiri, beberapa orang mungkin merasa marah ketika emosi bersumber dari rasa sakit. Bahkan ada yang menganggap bahwa emosi hanya berhubungan dengan rasa marah atau jengkel, karena seseorang akan meluapkan emosinya ketika dipancing oleh hal-hal yang tidak disukainya, apalagi ditambah dengan tekanan-tekanan yang membuat panas suasana hatinya.

Emosi negatif seperti amarah yang tidak terkendali tanpa disadari bisa menggerogoti kesehatan fisik dan mental anda. Emosi negatif diterima oleh bagian otak kita yang disebut system limbic yang berperan sangat penting dan berhubungan langsung dengan system otonom (yang mengontrol kerja organ tubuh) maupun bagian otak lainnya.

Penyebab orang mudah marah ini ternyata dipengaruhi oleh kadar serotonin di dalam otak. Fluktuasi kadar hormon serotonin dalam otak akan mempengaruhi bagaimana respon seseorang dalam mengatur kemarahannya, sehingga bisa terlihat mengapa seseorang lebih mungkin bersifat agresif, karena menurut berbagai literatur medis, emosi negatif yang menumpuk bisa menyebabkan gangguan kesehatan kronis dan komplikasi parah.

Sebenarnya mengekpresikan emosi adalah cara sehat untuk melepaskan perasaan terpendam. Tetapi hal yang pertama kali harus anda lakukan adalah kenali dan mengindentifikasi emosi sendiri, lalu dilanjut dengan mencari solusi mengatasi masalah anda. Kebanyakan orang yang mudah emosi banyak memiliki masalah yang cukup pelik dan serius sehingga membuat mood nya mudah berubah.
Daripada anda melampiaskan amarah itu, cobalah fokus pada solusi untuk menghindari kemarahan itu. Koreksi diri sendiri, hal yang membuat marah bukan berarti orang lain yang melakukan hal tersebut, tetapi bisa jadi marah tersebut akibat ulah diri sendiri, Untuk itu cobalah untuk mengkoreksi diri sendiri, pahami permasalahan, dan fokus pada solusinya.

Dengan melihat kadar hormon serotonim pada otak manusia yang menyebabkan seseorang agresif atau tidak terhadap stimulus yang bersal faktor internal maupun external,dan otak merupakan pusat syaraf manusia,maka impuls impuls listris dari sistem syaraf manusia dapat dijadikan sebagai sebuah media yang dapat meredakan agresifnya emosional menjadi seimbang.

Seperti yang telah kita bahas terdahulu medan magnit tubuh yang berasal dari tumbuhnya Natural Magnetik Energi Tubuh yang kuat dan ideal pada tubuh manusia, dapat digunakan untuk berbagai hal,antara lain gerak getaran gelombangnya dapat digunakan untuk merangsang hormon serotonim pada otak agar fungsi agresifnya dapat diredam dan menjadi seimbang.

Metabolis tubuh dengan aliran darah  yang mengencang dan emosionalpun semakin memuncak mengakibatkan keseimbangan emosi terganggu.  Metabolis tubuh itu sendiri mengandung magnetik,terbukti dari darah dan cairan tubuh itu sendiri mengandung biomagnetik,Fotensi magnetik ini dapat mamfaatkan ,jika kita mengetahui methode penggunaannya. Rangsangan dari Natural Magnetik Energi Tubuh yang merupakan fitrah yang sudah ada pada manusia,oleh Maspanji Sangaji Samaguna Indonesia dibangkitkan agar gerak getaran gelombangnya menjadi kuat dan ideal ,sehingga dapat kita gunakan.
Sum sum tulang belakang,sum sum lanjutan dan otak mengatur gerak refleks,gerak otonom dan gerak sadar,yang merupakan sistem syaraf manusia yang berpusat di otak .Sistem syaraf manusia mengandung impuls impuls listrik akibat kerja sistem syaraf tersebut,untuk memperbesar impuls impuls listrik agar menjadi gelombang elektromagnetik yang mampu menyeimbangkan gerak sadar,gerak otomom dan gerak refleksi.

Sistem otak yang terdiri dari otak kanan,otak kiri dan otak belakang,mempunyai fungsi vital dalam tubuh manusia,otak kanan sebagai pusat intuisi atau indara ke enam,otak kiri sebagai pusat intelektual,dan otak belakang sebagai pusat emosi,dan ketiga fungsi otak itu harus seimbang.
Dengan mengikuti latihan latihan yang dikembangkan oleh Maspanji Sangaji Samaguna Indonesia,yaitu menumbukan atau membangkitkan potensi Natural Magnetik Energi Tubuh,maka getaran gelombang elektromagnetik tubuh tersebut mampu menyelaraskan gerak getaran intelektual,intuisi dan emosi.Pada kenyataannya setelah mengikuti latihan latihan pembangkitan magnetik tubuh,85 % dari peserta latihan memiliki emosi,mental yang seimbang,disebabkan oleh getaran magnetik tubuh tersebut dapat menarik emosi negatip menjadi emosi positip,Setelah mengikuti latihan mereka memiliki keseimbangan emosi seperti bersikap tenang,dan dapat mengendalikan emosinya.

BUDAYA ADAT DASAN BELEQ DESA GUMANTAR


                                 BUDAYA ADAT DASAN BELEQ ,DESA GUMANTAR





Gumantar adalah salah satu desa dari delapan desa yang ada diwilayah Kecamatan Kayangan Lombok Utara Nusa Tenggara Barat ,Desa ini banyak meninggalkan beberapa situs sejarah yang bernuansa adat istiadatnya,yang berpusat di Dusun Dasan Beleq Gumantar.Masyarakat adat Dasan Beleq Gumantar yang berkaitan erat dengan ajaran Islam.Hal ini bisa dilihat dari situs budaya yang ada, terus hidup dan berkembang sejalan dengan ritme kehidupan masyarakat setempat.
Aspek kehidupan keagamaan terdapat di Dusun Dasan Beleq Gumantar ini, yaitu dengan adanya Mesjid Kuno yang ada sekarang adalah dibangun oleh para ulama’ penyebar agama Islam terdahulu. Situs situs sejarah peninggalan para penyebar agama Islam yang tedapat di Dusun Beleq Desa Gumantar Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara ,ada beberapa peninggalan bersejarah di
 Dusun Dasan Beleq ini, diantaranya ‘Bale Bangar Gubuq’, yang oleh masyarakat setempat disebutnya Pagalan. Bale ini, terletak ditengah-tengah Gubuq Dasan Beleq, dengan ukuran 5x5 m.
Pada sekitar abad 16 Masehi, ketika agama Islam sudah mulai tersebar ke seluruh pelosok tanah air, tak terkecuali para penyebar ajaran Islam sampai juga ke wilayah utara lereng gunung Rinjani. Termasuk di gumi Dasan Beleq Gumantar ini.



Para penyebar agama Islam yang pertama kali datang ke Dusun Dasan Beleq Gumantar ,konon menurut cerita masyarakat setempat, diawali dari Gunung Rinjani. Penyebar agama Islam ini bernama Mak Beleq dan Kendi yang turun dari Gunung Rinjani, Mak Beleq dikenal dengan sebutan Datu Bayan.Sedangkan temannya yang bernama Kendi tadi, kala itu,tetap tinggal dan menyebarkan agama Islam di daerah Dasan Beleq dan sekitarnya.Diceritakan, sebelum sampai ke Dasan Beleq, para penyebar ajaran Islam (Mak Beleq dan Kendi) ini berhenti dulu di Pawang Semboya, untuk melihat sekeliling utara lereng gunung Rinjani, dan menetuntukan kearah mana nantinya tujuannya dalam menyebarkan ajaran Islam yang dibawanya. Setelah mantap keteguhan hatinya, maka dipilihlah suatu daerah sebagai tujuannya yang pertama dalam menyebarkan ajaran Islam. Daerah tersebut, sekarang dikenal dengan nama Dusun Dasan Beleq. Karena yang pertama kali datang ditempat itu bernama Mak Beleq, sebelum melanjutkan penyebarannya ke daerah Bayan.



Situs peninggalan sejarah yang lain di Dusun Dasan Beleq ini adalah Bale Adat yang berada di Pawang Gedeng/Pawang Adat, sekitar 400 meter kearah selatan Gubuq Dasan Beleq sekarang.
Bale adat yang berada ditengah Pawang Gedeng/Pawang Adat ini, terbuat dari anyaman bambu. Mulai dari atap hingga pagarnya seluruhnya terbuat dari bambu. Disamping Bale Adat ini, disebelah barat laut dari Bale Adat tersebut, didirikan ‘Berugak Agung’ sakenam, sebagai tempat persinggahan para tetua adat sebelum melaksanakan upacara ritual adat di Bale Adat tersebut. Selain sebagai tempat persinggahan para tetua adat sebelum melaksanakan upacara ritualnya, maka Berugak Agung ini, digunakan pula sebagai tempat mempersiapkan sesaji dan segala bentuk hidangan makanan yang disajikan dalam wadah yang disebut dulang, yang diperuntukkan bagi seluruh masyarakat adat yang hadir dalam upacara adat, usai melakukan upacara ritual di Bale Adat tersebut.



Masyarakat adat Dasan Beleq Gumantar mengadakan upacara ritual di Bale Adat yang berada di Pawang Gedeng dilaksanakan secara besar – besaran empat bulan sekali,upacara tersebut adalah upacara Buku Beleq. Dinakan upacara Buku Beleq ,karena upacara ini dilaksanakan empat bulan sekali secara besar-besaran. Namun pelaksanaan upacara ritual adat di Pawang Gedeng tersebut,tiap bulan juga dilaksanakan tetapi hanya sekedar upacara kecil-kecilan.Upacara Buku Beleq di Bale Adat dalam Pawang Gedeng ini, sebelum pelaksanaannya, masyarakat adat Dusun Dasan Beleq bergotong royong memperbaiki dulu atap dan pagar dari Bale Adat ,dan bambu lande yang digunakan untuk pemugaran diambil dari suatu tempat yang sudah ditentukan, yaitu dari daerah Tenggorong.Perbaikan ini, dilaksanakan selama 12 hari berturut-turut, hingga tiba waktunya pelaksanaan upacara adatnya.


BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODRNESASI

                                   BUDAYA BAYAN DI TENGAH ARUS MODRNESASI





Suku Sasak Bayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang di tengah arus modernisasi tetap memegang teguh prinsip hidupnya. Bukan berarti menolak pembaruan, mereka hidup berdampingan dengan pembaruan. Desa Bayan terletak di Kabupaten Lombok Utara Nusa Tenggara Barat,Banyak hal tentang kearifan masyarakat Bayan yang masih dipertahankan keberadaannya sampai saat ini.Suku Bayan memegang teguh ajaran leluhur mereka yang disebut "metu telu", yaitu segala sesuatu keluar dari tiga hal,yaitu fenomena alam terjadi dengan beranak,bertelur dan tumbuh,Sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga tersebut, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). "Selain itu sebagai manusia kita juga berasal dari tiga, yaitu Ibu, Bapak dan Tuhan,dan ada tiga fase kehidupan yang dilalui manusia yaitu lahir,mati,dan hidup di akhirat.



Masyarakat Bayan juga memaknai hidup. Setiap tahap kehidupan diupacarakan, dari saat bayi lahir, berusia 8 hari, lalu khitanan, menikah, hingga 1000 hari setelah wafat. Kelestarian alam juga dipelihara betul. Sebelum musim tanam, masyarakat akan bersama-sama membersihkan saluran air, lalu mengadakan upacara adat di mata air yang terdapat di hutan adat. Ketika akan menanam benih, ketika musim panen tiba semua diadakan upacara adat yang sarat makna. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan. Jika kedapatan menebang pohon, akan didenda satu ekor kerbau.Banyak yang menyangka metu telu adalah suatu ajaran agama. Metu Telu ini bukan agama, melainkan adat. Adat dan agama tidak boleh bertentangan. Tata tertib itulah adat." Mereka mngusung adat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam yang mereka anut. Perayaan adat yang besar yang sejalan dengan ajaran agama antara lain saat idul fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad. Tetapi setiap perayaan tidak akan memberatkan warga, karena masyarakat saling membantu. Saling mengirimkan kebutuhan untuk memasak dan mengerjakan semuanya bersama-sama.Dulu Kerajaan Bayan dipimpin oleh seorang wanita dengan pusat pemerintahan di Bayan Agung, Bayan Beleq .Pedaleman Bayan merupakan satu komplek yang berisi beberapa bangunan berugak (bale-bale/gazebo) dan bangunan untuk menyimpan pusaka. Komplek ini dipagari dengan anyaman bambu, bangunan beratapkan alang-alang dan terbuat dari kayu yang dibangun tanpa paku. Dalam komplek pedaleman, terdapat empat buah beruga yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Berugak Agung yang berfungsi sebangai tempat musyawarah atau disebut gundem, yang mencirikan sikap kebersamaan suku Bayan. Selain itu setiap rumah wajib memiliki berugak untuk menjamu tamu.




Mesjid Kuno bayan terletak di atas bukit tak jauh dari wilayah kampu pedaleman Bayan . Mesjid ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Mesjid ini pun sangat sederhana, berlantai tanah, beratap bambu dan alang-alang dan berdinding anyaman kayu. Mesjid hanya dibuka untuk upacara peringatan adat tertentu.Terlepas dari segala tradisi yang kental dan dipegang teguh, mereka tidak menolak pembaruan. Mereka hidup modern dan tidak menutup diri. Sebagian masyarakat masih bekerja mencocok tanam, tetapi ada pula yang menjadi pegawai negri sipil dan guru.Dari kearifan dan keserhanaan prinsip hidup masyarakat setempat. Manusia dan alam hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat tidak menolak pembaruan, tanpa melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan mereka.