Sabtu, 21 Mei 2016

TINJAUN SINGKAT TENTANG MAJDZUB




TINJAUAN SINGKAT TENTANG MAKRIFAT MAJDZUB


Laduniyah bagi orang Majzub
( Orang yang dialiri oleh getaran daya tarik haq)

Tidak sama dengan ilmu pengetahuan yang diperoleh secara biasa (Ma’rifat talimiyat), ilmu laduni bersifat tetap dan tidak dapat hilang atau terlupakan. Seseorang yang telah dianugrahi ilmu laduni disebut dengan ‘alim sejati’ (alim yang sebenarnya). Sebaliknya, seseorang yang tidak memperoleh dari ilmu laduni, belum bisa disebut sebagai alim sejati. Hal ini dinyatakan oleh Abu 

Yazid al Bistami bahwa
“Tidaklah disebut sebagai alim (ma’rifat al-mazjub) jika seseorang masih memeproleh ilmunya dari hapalan-hapalan kitab, karena seseorang yang memperoleh ilmunya dari hapalan, pasti akan mudah melupakan ilmunya. Dan apabila ia lupa, maka bodohlah ia”

Seorang yang ‘alim (ma’rifat laduniyah) adalah orang yang memeproleh ilmunya langsung dari Allah menurut waktu yang dikehendaki-Nya, dengan tidak melalui hapalan dan pelajaran. Orang seperti ini pula menurut Muhammad Nafis disebut sebagai ‘alim ar-Rabani -orang yang berpengetahuan ketuhanan-.

Dengan demikian Ma’rifat laduniyah juga dapat disebut Ma’rifat orang Majzub( orang yang dialiri oleh getaran daya tarik haq) juga dapat disebut ‘alim ar-Rabani yaitu orang yang langsung dibukakan oleh Tuhan untuk mengenal kepada-Nya. Jalannya langsung dari atas dengan 

menyaksikan Dzat yang Suci, kemudian turun dengan melihat sifat-sifat-Nya, kemudian kemudian kembali bergantung kepada nama-nama-Nya,kemudian turun kepada yang mengenal af'alNya

Sulthan adalah sebuah kekuatan atau energi yang terdapat pada semesta ini,Syarikul Autad adalah kumpulan kekuatan kekuatan yang merupakan pusat energi atau dapat dikatakan inti zat yang selalu dikejar oleh ion ionnya sehingga menimbulkan gerak getaran gelombang yang terus menerus di alam ini dan terjadi senyawa senyawa baru dari ion ion yang melepaskan diri dengan ledakan ledakannya.

Jizbatul Haqqul Karomah adalah kekuatan daya tarik=magnit kebenaran dari kemuliannya.atau dapat dikatakan daya tarik positip yang menjadi aura pada sebuah kekuatan.
Sulthan Syarikul Autad Jizbatul Haqqul Karomah,merupakan kekuatan daya tarik haq adalah fitrah yang meliputi fartikel zat semesta.yang merupakan potensi yang terdapat pada diri manusia.

Maspanji Sangaji Samaguna Indonesia ( MPSSGI ) adalah sebuah wadah sebagai tempat latihan untuk menumbuhkanan,pengembangan potensi jizby atau daya tarik yang nerupakan natural magnetik yang terdapat pada tubuh manusia.Apabila Jizby/jazbah atau daya tarik ini tumbuh kuat pada tubuh,maka tubuh akan bergetar.

Seperti kata Syeikh Al Jauhari orang orang yang dialiri oleh jizby atau daya tarik ini,maka tubuhnya akan bergetar,ibarat sepotong jarum yang didekatkan dengan magnit,Apabila potensi jazbah ini sudah tumbuh kuat pada diri manusia,dengan latihan latihan tertentu yang dikembangkan oeh Maspanji Sangaji Samaguna Indonesia ,maka jizby tersebut dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan yang bersifat 

JAZBAH BAGI ORANG MAJZUB







JAZBAH BAGI ORANG MAJZUB

Jazbah ialah satu daya tarikan haq yang membuat sel sel tubuh,jaringan tubuh,dan organ tubuh bergetar .dan orang yang dialiri oleh getaran daya tarik haq ini disebut orang majzub/majzubien .Orang Majzub dengan daya tarik haq dapat sampai kepada tahap haqiqat dan makrifatulloh dalam tempo yang singkat dan seketika dibandingkan dengan pencapaian manusia lain. Ia seperti seseorang yang mendaki gunung menuju puncak dengan bantuan tali yangg ditarik dari atas puncak. Keadaan ini amatlah mudah berbanding orang yang mendaki tanpa bantuan dan tanpa dorongan, hanya semata-mata usaha. 

Singkat masa disini bukanlah berarti satu hari atau satu tahun, tetapi singkat masa yang disesuaikan dengan tingkat karomah. Nabi Muhammad s.a.w. menamatkan latihan kerohaniannya setelah beliau berumur 40 tahun lalu dilantik menjadi Rasul. Begitu juga dengan Syeikh Abdul Qadir Jilani dan para sultan awliya' yg lain dapat menamatkan latihan kerohanian mereka antara umur 40 - 90 tahun. Ini dikira cepat berbanding manusia biasa yang tidak sempat tamat latihan walau umur menjangkau 1 abad.Hal ini sebagai perbandingan ,bahwa dalam menuntut ilmu itu berlanjut sepanjang hayat.

Orang yang majzub/orang orang yang dialiri oleh getaran daya tarik haq dianugerahkan keringanan yaitu dapat melakukan banyak hal dalam waktu yang singkat ,sedangkan hal itu sangatlah sukar dan amat berat bagi orang biasa.Misalnya orang majzub mampu menghapal dan mengerti sesuatu dengan singkat ,cepat,tepat dan benar dengan refleksi autadillah,dan untuk orang biasa perlu berbulan bulan menghayatinya barulah dia bisa menghapal dan mengerti.

Seseorang yang majzub pertama mengenal keagungan serta kebesaran Tuhan dalam setiap masa dan saat tanpa lalai. Orang majzub selalu dipelihara oleh Allah dari bencana,bahaya dan malapetaka, Ia adalah satu anugerah khas dari Tuhan kepada hambaNya yang dipilih mengikut kehendakNya semata-mata dan ia bukan diminta.Semua itu bukan berasal dari hawa nafsu ,keinginan ,kemauaan,kecerdasan atau kepandaian yang ada pada dirinya,tetapi semua itu terjadi karena setiap saat dan setiap waktu mereka mendapatkan laduny,ilham,taupiq ,hidayah dan inayah.


Jika zaman nubuwwah hal ini berlaku pada para Nabi dan Rasul tetapi selepas zaman Rasulullah s.a.w. (zaman wilayah/ wali) ,hal yang seperti ini berlaku kepada para wali,autad,dan orang orang muttaqien. Orang majzub mempunyai mata hati,hati nurani,intuisi yang tajam setelah didapati setelah terbuka hijab.dan mendapatka kasyf dengan bashiroh ,muhatthob dan rukyatus sodiq.Beriku ini mari kita mencoba melihat pendapat tentang Majzub,untuk lebih jelas tentang makna dan arti majzub tersebut,

Para Masyaikh Naqsabandiyah mengatakan bahwa',Meneruskan Zikir Ismu Zat akan menghasilkan Jazbah.Jazbah adalah daya tarikan daripada Allah dengan cepat,Jazbah itu akan mengetarkan seluruh sel sel,jaringan jaringan,dan organ organ tubuh yang terisi oleh zikir ismuz zat menjadi darah daging bergetar memuji kepada Alloh.Zikir Nafi Itsbat akan menghasilkan perjalanan Suluk dengan cepat dalam munajad dan sirnya.Seseorang yang telah mendapatkan Jazbah oleh Allah swt tanpa perantara,tanpa keinginan dan kemauannya sendiri,digelarkan sebagai Mazjub Salik/majzubien dan ketika seseorang yang menempuh Suluk dengan segala amalan amalan para salik yang diijasahkan oleh guru yang kamal mukamil dan mendapatkan taupiq hidayah Taufiq Allah swt ,maka orang tersebut dipanggil sebagai Salik Mazjub.

Perbedaan yang jelas antara Salik Mazjub dan Majzub Salik.

Seorang Salik Mazjubtelah melalui berbagai peringkat keruhanian dengan menuntut secara salik,dengan amalan,zikir,riyadah,munajad,dan halwat.dan mengetahui tentang seluk-beluk dalam perjalanan keruhanian.

Seorang Mazjub Salik adalah seperti seorang yang telah dibawa kekuatan daya tarik zat yang tiba tiba mendorong dengan gerak getaran gelombangnya oleh sebuah kekuatan daya tarik haq tanpa usahanya sendiri dan tanpa hawa nafsu,pemikirin,dan kepandaian,namun hanya ada wuqub qolby .wuqub adadi dan wuqub zamani.Dengan kekuatan daya tarikan zat atau Jazbah/jizby,orang

orang majzub dapat mengenal segala rahasia ilahi dengan singkat dan seketika hanya semata mata karena jazbah/jizby yang bergerak dan bergetar dalam tubuhnya,Jazbah tersebut akan bergerak dengan getaran refleksi zat.

Dalam Suluk,seseorang Salik menempuh perjalanan keruhanian dengan usaha dan amalannya,yaitu dengan zikir,riyadah,hizib,munajad dan halwat,tetapi orang orang majzub dengan kekuatan Jazbahnya, segala peningkatan keruhanian yang didapatkannyaadalah sematamata limpahan ilham,laduny dari Allah swt.Jika tidak ada Jazbah/ daya tarikan zatnya pada diri,maka seseorang itu tidak akan dapat mencapai darjat Wilayat yaitu derajat Kewalian dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala.




Minggu, 27 Desember 2015

BEGIBUNG TRADISI SUKU SASAK (photo: MILAD MPSSGI KE 16 )

                                                 BEGIBUNG TRADISI SUKU SASAK
                                                        photo: MILAD MPSSGI KE 16



Sebutan “Begibung” mungkin tidak asing lagi ditelinga orang-orang suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok atau lebih dikenal dengan sebutan Pulau Seribu Masjid, meski mulai agak jarang terlihat dan menjadi pemandangan yang sulit didapatkan saat ini namun tradiri makan bersama ini disebagian tempat masih terlihat rutin dilakukan dan terpelihara keberadaannya, terutama jika terdapat acara syukuran atau “Begawe”.
Pagi itu mentari belum menampakkan pancaran sinar terangnya, dari sejak subuh terlihat disibukkan dengan berbagai macam pekerjaan untuk menyiapkan makanan dan panganan khas Lombok yang akan disajikan kepada tamu undangan di acara “begawe” (tasyakuran) yang dilakukan atas pernikahan anak laki-lakinya.
Mulai dari warga laki-laki yang sibuk menyiapkan lauk-pauk seperti Reraon, Ares dan juga Ebatan, tidak perlu ada perintah dari seorang Komandan seperti yang sering kita liat didunia Militer atau pengaturan mekanisme kerja dari seorang CEO disebuah Perusahaan, namun ratusan anggota Banjar terlihat sibuk mengerjakan pekerjaannya masing-masing seakan sudah sangat paham dengan semua itu.



Sedangkan anggota Banjar perempuan tidak kalah sibuknya mereka menyiapkan jajanan khas Begawe ala suku sasak Lombok seperti Pis-pisan, Jaje Tujak, Tarek, Cerorot dan masih banyak jenis yang lainnya, pemandangan seperti ini sudah menjadi tradisi yang mungkin tidak semua kampung masih menikmatinya karena untuk daerah perkotaan semua pekerjaan itu seringkali dilimpahkan kepada pihak Catering.
Ada hal yang terlihat begitu menarik dari rangkaian kegiatan tersebut yaitu Begibung saat sarapan pagi, sekitar pukul 09.00 Wita semua anggota banjar diberikan sarapan dengan cara Begibung, mengunakan media Nare atau Nampan sebagai tempat nasi dan lauknya kemudian satu Nare tersebut dimakan oleh empat orang dengan cara berhadap-hadapan, sungguh menjadi pemandangan sangat menarik karena terlihat rasa kekeluargaan yang kental diantara anggota Banjar dan warga kampung lainnya.


Begibung memberikan pelajaran yang cukup berharga bagi masyarakat suku Sasak. Betapa kebersamaan itu menjadi sangat penting, perbedaan status tidak menjadi penghambat bahkan begibung melebur semua status sosial menjadi satu. Begibung juga memberikan pesan, betapa suku Sasak sangat toleran dan memberi satu sama lain. Makna-makna inilah yang hari ini telah mulai terkikis dalam kehidupan masyarakat kita. Gelombang informasi yang tidak terkontrol menyebabkan masyarakat kita kadang menjadi acuh tak acuh.
“Begibung ini harus menjadi tradisi yang terjaga sampai anak cucu kita kedepan, karena sangat bermanfaat untuk tetap menjaga rasa kekeluargaan dan kebersamaan”,

Sabtu, 26 Desember 2015

RITUAL MAULID ADAT ALA GUMANTAR

                                      Rangkaian Ritual Prosesi Maulid Adat Ala Gumantar





Prosesi ritual Maulid Adat Gumantar,Kecamata Kayangan,Kabupaten Lombok Utara, setiap tahun berlangsung selama dua hari dua malam, dimulai dari Merembun (mengumpulkan) segala hasil bumi di Bale Beleq (rumah adat). Dalam acara merembun ini dilakukan oleh kaum hawa dengan menggunakan wadah peraras (bakul kecil) dan berpakaian adat,
Kegiatan berikutnya,adalah Bisok (cuci) Gong Adat sebelum diturunkan. Setelah itu acara dilanjutkan dengan agenda Bisok Menik (Cuci Beras) yang dilakukan oleh kaum hawa di Lokok Bikuk sekitar 200 meter sebelah barat Dusun Gumantar.
Dalam acara bisok menik ini,tidak berdasarkan Purusa.”Siapa saja boleh melakukannya,”katanya.
Sementara menunggu segala sesuatunya siap, di alun-alun Mesjid Kuno Gumantar masih tetap berlangsung tarian yang menurut bahasa Gumantar disebutnya Migel. Bersamaan dengan itu, di bale beleq, praja mulud juga sedang dipersiapkan.



Kemudian acara selanjutnya adalah Tau Lokak sudah siap diberugak bersama sama dengan Pengancang dan berpakaian adat.“Kalau sudah Tau Lokak sudah siap di Berugak bersama dengan Pengancang, ini berarti prosesi ritual Maulid Adat, akan segera digelar,”.
Acara dilanjutkan dengan iring-iringan sepasang Praja Mulud menuju Mesjid Kuno, dengan 10 orang laki-laki membawa ancak (dulang terbuat dari bambu) dan 20 pasang wanita mengiring paling depan dengan menggunakan pakaian adat.


“10 laki-laki pembawa ancak ini, langsung naik ke Mesjid Kuno bersama dengan Praja Mulud, sedangkan 20 wanita sebagai pengiring tadi, hanya sampai diluar Mesjid,”.
‘Puncak akhir dari prosesi ritual Maulid adat Gumantar ini, sama dengan seperti di Bayan, yaitu puncaknya dengan naiknya Praja Mulud ke Mesjid Kuno. Sedangkan kalau di Sesait, puncak Maulid adatnya dengan di naikkannya Nasi Aji di Mesjid Kuno.

PUNCAK MAULID ADAT WET SESAIT

                                 Puncak Maulid Adat Wet Sesait, Dulang Nasi Aji di Naikkan



Ritual prosesi Maulid Adat wet Sesait, pada puncaknya yang terakhir (hari keempat) dengan menaikkan Nasi Aji ke Mesjid Kuno.
Nasi Aji yang dinaikkan ini berjumlah tiga buah dulang yang berkaki satu, yang bentuk dulangnya seperti Waruga pada jaman batu besar.
Disebut Nasi Aji, karena cara penyajian segala isinya dengan cara berdiri dan dibungkus / dibalut dengan kain putih.
“Pada intinya, ini adalah sebuah simbol bahwa, apapun isinya tidak ada yang mengetahui, karena dibungkus dengan kain putih,
Mengapa jumlahnya harus tiga dulang? karena itu ada hubungannya dengan Menjango, Membangar dan Bukak Tanak.


Dulang Nasi Aji berisikan segala jenis makanan yang sebelumnya sudah disajikan oleh Praja Mulud di dalam Kampu. Isinya terdiri dari nasi, lauk-pauk (tanpa garam), pisang, jaja pangan, jaja tutu dan lain secukupnya. Semua penganan ini disajikan / diatur dengan cara berdiri. Masing-masing dulang dibungkus dengan menggunakan kain putih (melambangkan kesucian).
Nasi Aji yang berjumlah tiga dulang ini, diperuntukkan bagi Tau Lokak Empat. Sedangkan dulang selebihnya itu adalah sebagai pengiring dulang Nasi Aji, dan diperuntukkan bagi siapa saja yang ada di dalam Mesjid Kuno.
“Khusus dulang Nasi Aji yang tiga buah ini, sudah ada peruntukannya. Satu dulang untuk pasangan Pemusungan dan Penghulu, satu dulang untuk pasangan Mangkubumi dan Jintaka, dan satu dulang yang lainnya diperuntukkan bagi tamu undangan yang lain, yang setingkat dengan jabatan Tau Lokak Empat,
Tetapi yang unik disini, lanjutnya, bahwa Mangkubumi itu tidak makan. Sebagai penggantinya dicarilah orang yang sederajat dengannya, untuk menyantap Nasi Aji bersama dengan Jintaka
Ada lagi sebutan yang unik dalam Tau Lokak Empat. Misalnya, Penghulu, tidak disebutkan Penghulu saja, tetapi ditambah sebutan nama didepannya dengan sebutan Mas Penghulu. Sedangkan yang lain, seperti Pemusungan, Mangkubumi dan Jintaka, sebutannya tetap tidak berubah


Kamis, 24 Desember 2015

PROSESI MAULID ADAT BAYAN

                                         
                                                    PROSESI MAULID ADAT BAYAN




Tradisi Maulid Nabi ala adat Bayan ini berjalan selama dua hari. Hari pertama adalah persiapan bahan makanan dan piranti upacara lainnya yang disebut “kayu aiq”, sementara hari kedua adalah do’a dan makan bersama yang dipusatkan di masjid kuno Bayan. Para pelaksana prosesi ‘Mulud Adat Bayan” terdiri dari warga Desa Loloan, Desa Anyar,Desa Sukadana, Desa Senaru, Desa Karang Bajo dan Desa Bayan, yang semua Desa tersebut merupakan kesatuan wilayah Adat yang disebut Komunitas Masyarakat Adat Bayan.


Perhitungan berdasarkan ‘Sereat’ (Syari’at) Adat Gama di Bayan “Mulud Adat Bayan” dilaksanakan pada dua hari setelah ketepan Kalender Islam Maulid Nabi tgl.12 Rabi’ul Awal tepatnya dimulai pada tanggal 14-15 Rabi’ul Awal yang tahun 2011 ini jatuh pada tanggal 18-19 Februari, Komunitas Masyarakat Adat Sasak Karang Bajo, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, sejumlah masyarakat adat bersiap-siap melakukan rangkaian acara perayaan Maulid Nabi yang digelar secara adat,masyarakat adat setempat biasa menyebutnya dengan “Mulud Adat”


Sejak pagi hari Masyarakat Adat Bayan berbondong-bondong menuju "Kampu" yaitu desa asli atau area yang pertama didiami oleh suku sasak Islam Bayan, mereka menyerahkan sebagian sumber penghasilannya dari hasil bumi seperti, padi, beras, ketan, kelapa, sayur-sayuran, buah-buahan,dan hewan ternak beserta “batun dupa” (uang) dan menyatakan nadzarnya kepada “Inan Menik” yaitu seorang perempuan yang menerima hasil bumi dari para warga nantinya hasil bumi tersebut akan diolah menjadi hidangan (sajian) untuk dihaturkan kepada ulama dan tokoh adat sasak Bayan dikeesokan hari pada hari ke dua Mulud Adat, hal ini adalah bentuk rasa syukur warga atas penghasilannya, kemudian “Inan Menik” memberikan tanda di dahi warga adat dengan “mamaq” dari sirih sebagai ritual penandaan anak adat yang disebut “Menyembeq".


Selanjutnya Masyarakat Adat Bayan bahu membahu membersihkan tempat yang disebut Balen Unggun (tempat sekam/dedak), Balen Tempan (Tempat alat-alat penumbuk padi), membersihkan Rantok (tempat menumbuk padi), membersihkan tempat Gendang gerantung, selanjutnya sebagian dari kelompok masyarakat Adat menjemput gamelan Gendang Gerantung, setibanya Gendang Gerantung di tempat yang sudah disediakan dilakukan acara ritual selamatan penyambutan dan serah terima dengan ngaturan Lekes Buaq (sirih dan pinang), kemudian acara ritual “Taikan Mulud” (Rangkaian Mulud Adat dimulai).


Perkiraan waktu ‘gugur kembang waru’ (sekitar jam 15.30 waktu setempat) Para wanita memulai “Menutu Pare” (menumbuk padi) bersama-sama secara berirama dengan menggunakan Tempan terbuat dari bambu panjang ditempat menumbuk padi yang berbentuk seperti lesung perahu yang disebut “Menutu” (menumbuk). Di saat yang bersamaan diiringi dengan gamelan Gendang Gerantung khas Desa Bayan, sebagian kaum laki-laki mencari bambu tutul untuk dijadikan sebagai umbul-umbul yang akan dipajang pada setiap pojok masjid kuno Bayan acara ini disebut “Tunggul” yang dipimpin oleh seorang pemangku yang disebut “Melokaq Penguban” setelah mendapat restu dengan pemberian lekoq buaq (sirih dan pinang) oleh “Inan Menik”, lekoq buaq inilah yang dijadikan sebagai media bertabiq (permisi) kepada pohon bambu yang akan ditebang.



Malam harinya bertepatan dengan bulan purnama dimana tunggul (umbul-umbul) sudah terpasang pada setiap pojok masjid Kuno, para pemimpin Adat dan Agama mulai “Ngengelat” yaitu mendandani dalam ruangan Masjid Kuno dengan symbol-simbol sarat makna, dan setelah itu disaat para pemain gamelan sudah memasuki halaman Masjid Kuno Bayan pertanda acara bertarungnya dua orang warga pria dengan menggunakan rotan (Semetian) sebagai alat pemukul dan perisai sebagai pelindungnya yang terbuat dari kulit sapi, akan segera dimulai, permainan yang biasa disebut “Presean” ini biasa dilakukan oleh para “Pepadu” atau orang yang dihandalkan dalam permainan ini, namun pada acara Mulud Adat ini siapa saja yang ingin dipersilahkan, atau warga yang bernadzar bahwa ketika Mulud Adat dia akan bertarung. Permainan yang dihelat tepat didepan Masjid Kuno Bayan ini, tidak didasari rasa dendam dan merasa jagoan namun bagian dari ritual dan hiburan dan apabila salah satu pemain terluka, atau mengundurkan diri keduanya harus meminta maaf dengan bersalaman seusai permainan. Ini merupakan tradisi ritual dan hiburan Mulud Adat yang dilakukan sejak berabad-abad lamanya.


Seusai acara “Semetian” atau “Presean” para pemimpin Adat, pemimpin Agama besrta tokoh-tokoh masyarakat lainnya dan terbuka bagi siapapun yang ingin ikut serta pada berkumpul di “Berugaq Agung” untuk saling bercerita lepas dan berdiskusi serta berwacana tentang segala hal.
Pada hari kedua 15 Rabi’ul awal warga perempuan adat memulai kegiatannya dengan “menampiq beras” yaitu membersihkan beras yang telah di “Tutu” atau di “Rantok” yang dilanjutkan dengan acara “Misoq Beras” (mencuci beras) dengan iring-iringan panjang para perumpuan adat dengan rapi berbaris dengan bakul beras dikepala menuju sebuah mata air Lokoq Masan Segah namanya yang memang dikhusukan untuk mencuci beras dikala ritual dilaksanakan. Jarak mata air ini sekitar 400 meter dari ‘Kampu”. Prasayarat para pencuci beras ini adalah perempuan dalam keadaan suci (tidak dalam masa haid), sepanjang jalan berpantang untuk berbicara, tidak boleh menoleh dan memotong jalan barisan. Setelah beras dicuci lalu dimasak menjadi nasi tibalah saatnya untuk “Mengageq” yaitu menata hidangan diatas sebuah tempat yang dibuat dan dirancang sedemikian rupa yang disebut “Ancaq”


Pada sore harinya, “Praja Mulud” atau para pemuda Adat yang telah didandani menyerupai dua pasang pengantin diring bersama-sama dari rumah “Pembekel Beleq Bat Orong” (Pemangku adat dari Bayan Barat) menuju Masjid Kuno dengan membawa sajian yang berupa hidangan seperti nasi dan lauk pauknya . “Praja Mulud” ini mengambarkan proses terajdinya perkawinan langit dan bumi, Adam dan Hawa, yang disimbolkan dengan pasangan penganten yang dilakukan oleh pranata-pranata adat Bayan.



Setibanya di masjid lalu salah seorang pemuka agama memimpin do’a. Seusai do’a acara dilanjutkan dengan makan bersama yang dikuti para jama’ah atau warga adat yang datang kemudian untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.ini merupakan wujud rasa syukur warga adat sasak Bayan kepada para ulama sekaligus menjadi puncak acara perayaan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W yang dirayakan secara adat Bayan.

DUSUN TRADISIONAL SENARU BAYAN

                                           DUSUN TRADISIONAL SENARU BAYAN





Dusun Senaru memiliki panorama alam yang indah dengan wisata air tejunnya dan pintu gerbang pendakian gunung Rinjani, juga memiliki perkampungan tradisional yang ditinggali oleh sekitar 25 Kepala Keluarga (KK).
Rumah yang berjejer rapi dengan pagar bedeg beratap daun rumbia menambah keindahan perkampungan tradisional ini. Lebih-lebih disekeliling perkampungan ini terdapat kebun kopi dan berdekatan langsung dengan pintu gerbang Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR).
Rumah diperkampungan ini, tidak jauh beda dengan rumah adat suku Sasak yakni memiliki multifungsi dan nilai estetika dan filosofis bagi penghuninya. Arsitektur atap rumahnya berbentuk seperti gunungan menukik kebawah dengan jarak antara 1,5 sampai 2 meter dari permukaan tanah.
Sementara atap bubungannya (bungus-bahasa Sasak) terbuat dari alang-alang dengan dinding dari anyaman bambu tanpa ada pentilasi atau jendela. Kamar rumah dibagi menjadi beberapa ruangan, yaknu ruang induk, ruang tidur dan ruang tempat menyimpan harta benda. Atapnya yang berbentuk gunung  terinspirasi dari Gunung Rinjani, Gunung tertinggi di Lombok dan memiliki nilai sakral tertentu bagi suku sasak.


Dusun Senaru  berada dalam satu kompleks yang tertutup dan secara eksternal dihubungkan oleh jalan menuju jalan utama ke Desa Bayan. Bale-bale di Dusun Senaru didirikan di atas tanah datar yang berada di  daerah lereng. Di kelilingi oleh pagar dan berfungsi sebagai pembatas, pertahanan dan sebagai penyedia kelengkapan untuk upacara tertentu.
Pembangunan bale dilakukan dengan konsep cermin atau berhadapan, dan diantara dua bale didirikan bangunan yang bernama beruga’. Di luar bangunan rumah dekat pagar berdiri kandang ternak.
Sementara mata pencaharian pendudukanya hampir 100 persen sebagai petani dan sebagian kecil peternak. Kendati tetap mempertahankan keasliannya, namun warga tidak menolah modernisasi, dan hampir semua rumah adat transidisional ini sejak beberapa tahun lalu sudah diterangi dengan lampu listrik.


Bagi anda yang berkunjung ke obyek wisata air terjun Sendang Gila atau melakukan pendakian ke Rinjani, rasanya kurang lengkap jika anda tidak mampir di rumah trandisional Senaru yang bersebelahan langsung dengan pos Rinjani Trekk Center.